Tycoon Sofjan Wanandi ingin meningkatkan sistem pendidikan Indonesia
Konglomerat bisnis dan politisi Sofjan Wanandi berusia 77 tahun tahun ini, tetapi semangatnya untuk memperbaiki bangsa tetap awet muda. Meningkatkan pendidikan di negara ini adalah target berikutnya.
Selama masa mudanya pada tahun 1971, ia membantu membangun Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS), sebuah lembaga penelitian yang berbasis di Jakarta yang mengkhususkan diri dalam politik dan ekonomi. Dia kemudian membantu mendirikan Prasetya Mulya Business School pada tahun 1982.
Staf khusus untuk Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan dia ingin meningkatkan pendidikan dalam arti yang lebih luas.
“Konsep nasional yang pertama adalah dengan Pak [Jusuf]. Kami ingin mengundang universitas asing untuk datang ke sini, ”katanya kepada The Jakarta Post saat peluncuran buku terbarunya Sofjan Wanandi dan Tujuh Presiden (Sofjan Wanandi dan Tujuh Presiden) di JS Luwansa Hotel di Jakarta pada hari Rabu.
Sofjan menargetkan rencana yang akan dieksekusi tahun ini. Sebelumnya, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi mengungkapkan bahwa dua universitas asing, Universitas Melbourne dan Institut Teknologi Royal Melbourne (RMIT), telah memenuhi persyaratan untuk mendirikan cabang di Indonesia.
Namun, rencana itu bukan tanpa kontroversi, terutama dalam hal tenaga kerja. Setidaknya 200 dosen asing diperlukan untuk bekerja di cabang lokal universitas asing.
Sofjan mengakui masalahnya. Namun, ia mengatakan kenyataan ini adalah pil pahit yang harus ditelan oleh Indonesia untuk mendorong sektor pendidikannya, yang telah mengalami pertumbuhan stagnan dan tidak relevan di sektor korporasi.



Tidak ada komentar: