Rp 14.000 bukan ekuilibrium baru rupiah
Nilai tukar rupiah telah melayang sekitar Rp 14.000 per dolar AS selama beberapa hari terakhir, tetapi analis yakin ini bukan keseimbangan baru mata uang.
Sebaliknya, mereka berpendapat depresiasi rupiah sebesar 0,43 persen menjadi Rp 14.097 per dolar AS pada hari Rabu, disebabkan oleh tekanan eksternal yang kuat.
“Itu terjadi karena faktor eksternal. Itu bersifat sementara. Jika kebijakan moneter AS dan pertumbuhan ekonominya menjadi lebih pasti, kondisi pasar akan berubah, ”kata ekonom Bank Permata Josua Pardede di Jakarta pada hari Rabu, sebagaimana dilansir kontan.co.id.
Oleh karena itu, nilai tukar rupiah saat ini terhadap dolar AS menggambarkan nilai fundamentalnya, Josua menambahkan.
Dia mengatakan nilai tukar rupiah, yang berada pada level terendah sejak 2015, disebabkan oleh pasar, yang masih menunggu pengumuman suku bunga acuan BI, dan ekonomi AS.
Analis pasar mata uang Bank Mandiri Reny Eka Putri sepakat bahwa nilai tukar rupiah saat ini bukanlah keseimbangan baru dan menyatakan optimismenya bahwa mata uang akan menguat pada paruh kedua tahun 2018.
Penguatan rupiah akan dipicu oleh respons BI terhadap kebijakan ekonomi AS. Dia memperkirakan bahwa BI akan meningkatkan tarifnya antara 25 hingga 50 basis poin.
Josua berbagi pendapat Reny tentang penguatan rupiah, tetapi berbeda dari dia tentang perlunya bank sentral untuk meningkatkan suku bunga.
“[BI] masih perlu melihat agresivitas kebijakan ekonomi AS sebelum menaikkan suku bunga. Akan ada faktor pendorong [lain] yang akan memperkuat nilai tukar rupiah,



Tidak ada komentar: