si Pembunuh Berdarah Dingin
Kata milenial atau generasi milenial menjadi salah satu kata yang banyak didiskusikan orang. Bagus secara lantas ataupun di dunia maya. Apalagi. bila kata itu dikaitkan dengan istilah digital yang begitu fenomenal dalam beberapa tahun akhir-akhir ini ini, menjadikan keduanya bagaikan duet maut yang tidak terpisahkan.
Betapa tidak, kehadiran generasi milenial yang dibarengi dengan tren digital yang melanda dunia setidaknya dalam 10 tahun terakhir sudah merubah wajah kehidupan manusia di berbagai bidang. Bagus sosial, tradisi, ekonomi, politik. Banyak profesi ataupun bisnis lama berjatuhan karena terjadi perubahan pola kehidupan terutamanya di kalangan milenial tersebut. Perubahan itu sudah menimbulkan pergeseran tren kehidupan terutamanya masyarakat di perkotaan.
Sulit tradisi masyarakat milenial yang berbeda dibanding dengan generasi pendahulunya, baby boomers atau generasi X ini dikupas Yuswohadi, pengamat persoalan pemasaran dan merek dalam buku terbarunya, Millennials Kill Everything. \\\"Keadaan ini angker,\\\" kata Yuswohadi, Kamis (21/3).
Semula orang menyangka hanya digital disruption atau gangguan digital. Tetapi dalam perjalanannya keadaan ini kapabel membuat banyak perusahaan gulung tikar sampai membuat pengangguran.
Kaum milenial sudah merubah keadaan dari yang lama menjadi baru secara lebih progresif. Mereka melakukan perubahan begitu cepat sehingga banyak perusahaan yang dikelola generasi baby boomers ataupun generasi X yang belum siap mendapatkan perubahan itu menjadi terganggu pun tutup.
\\\"Generasi X atau baby boomers kurang bisa memahami generasi milenial, begitu juga sebaliknya,\\\" kata Yuswohadi.
Kerja transisi dari generasi baby boomers kepada generasi X berjalan mulus karena tidak terjadi perubahan yang drastis. Tetapi, lain halnya transisi yang terjadi dari generasi X ke milenial yang begitu tajam. Tetapi itu tidak terlepas dari kehadiran era digital yang kini melekat kuat dalam kehidupan kaum milenial.
Tetapi itu pun, kata dia, rupanya dengan menjamurnya bisnis start up yang berbasis teknologi digital. \\\"Mereka begitu terkenal dengan digital karena semua bisa diselesikan melewati telepon pintar,\\\" katanya.
Tetapi, generasi milenial diukur tidak mempunyai ketangguhan mental seperti generasi pendahulunya. Sikap mereka yang gemar bepergian dan kurang menyenangi tradisi menabung membuatnya rentan dalam menghadapi persoalan hidup. Tetapi itu masih ditambah dengan kurangnya kesanggupan soft skill seperti sikap ulet, jujur, mandiri, kapabel bergaul dengan berbagai kalangan yang dibutuhkan ketika ini untuk menghadapi tantangan hidup yang semakin berat.
Dalam bukunya setebal 315 halaman itu juga mengupas 50 kebiasan atau bisnis ketika ini yang akan redup dalam beberapa tahun ke depan. Diantaranya yakni pakain kerja, jam tangan, album foto, kamera, call center, daerah kerja, waktu kerja 9-5, menikah, departmen store, media cetak, celebrity endorser, film porno, sedotan dan sebagainya. Keadaan itu yakni hasil riset yang dilakukannya bersama regu dalam beberapa waktu terakhir. Di bagian akhir buku tersebut juga dicantumkan sejumlah isu penting sebagai sumber acuan buku tersebut.
Generasi milenial umumnya tidak menyenangi semua suatu yang berbau tradisi orang tua atau generasi sebelumnya yang terkesan klasik dan tertinggal jaman. Pengaplikasian menikah, bagi kebanyakan orang menikah yakni hal yang sakral sehingga patut dipersiapkan dengan matang. Tetapi, bagi kaum milenial menikah bisa dilaksanakan dimana saja dengan metode yang santai. \\\"Mereka bisa menikah dengan menerapkan Sneakers," katanya.
Mereka tidak mengenal formalitas dalam berprofesi yang dilaksanakan dengan santai. Tetapi itu terlihat dari pakaian yang mereka gunakan dalam berprofesi dan bersantai serta daerah mereka berprofesi. Mereka lebih menyenangi bersua di kedai kopi untuk menuntaskan urusan bisnis atau berprofesi di rumah, daripada patut datang ke kantor dengan menerapkan pakaian resmi.
Dalam bekerjapun mereka tidak menyenangi loyalitas dan senantiasa berkeinginan bermigrasi daerah berprofesi. juga dalam menerapkan alas kaki hak tinggi, atau high heels ditinggalkan karena dipandang tidak menyenangkan. Sebagai gantinya mereka lebih menyenangi sepatu tanpa hak atau sejenis sneakers yang dianggap lebih praktis.
Keadaan tersebut terjadi karena frekuensi berfikir yang berbeda dengan generasi sebelumnya sehingga banyak produk yang diukur tidak relevan dengan harapan mereka. telepon pintar terampil yang mempunyai sejumlah fasilitas canggih juga diukur akan membunuh layanan lainnya yang selama ini sudah dilaksanakan masyarakat.
Sumber https://tegalsiana.blogspot.com/


Tidak ada komentar: