Kondisi Negara Indonesia Raya
Cangkring sebuah desa yang aku singgahi beberapa hari yang lalu bersama teman akrabku si Dora atau Doni Pengembara ini. Diperbincangan ini membicarakan mengenai kondisi negara Indonesia akhir-akhir ini diawali dengan rezim era Jokowi yang sampai hari ini belum turun-turun, sebab menurunkan seorang presiden harus ada alasan yang jelas. Karena dalam pasal 7A UUD 1945 dalam rangka pemberhentian presiden sebagai berikut:
“Presiden dan/atau Wakil Presiden dapat diberhentikan dalam masa jabatannya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat atas usul Dewan Perwakilan Rakyat, baik apabila terbukti telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela maupun apabila terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden.”
Keinginan ada karena kondisi yang ada di negara kita, tetapi mekanisme harus sesuai dengan pasal tersebut di atas, namun melihat di lapangan bahwa kondisi sekarang tidak layak lagi dimana isyu kenaikan listrik yang tidak disosialisasikan secara transparan oleh pemerintahan ini.
Berikutnya adalah Kebangkrutan maskapai penerbangan kita yang bernama Garuda. isyu itu masih menjadi pro-kontra, ada yang mengatakan akan bangkrut, bangkrut atau memang bangkrut, isyu-isyu itu telah menjadi viral yang mengatakan tidak bangkrut karena takut kehilangan dari para pelanggan. Dari situs https://www.edunews.id menyebutkan bahwa perolehan laba turun 88 persen dibandingkan laba bersih tahun lalu sebesar Rp.1.03 triliun atau 78 juta dolar AS, pada bulan pertama tahun 2017, Garuda Indonesia telah mengalami kerugian yang cukup besar sekitar Rp.1.31 triliun. Menurut pemerhati Penerbangan (Mahfud L) menyebutkan bahwa sejak tahun 2015 utang Garuda Indonesia mencapai Rp.32.5 triliun dan meningkat ditahun 2016 mencapai Rp.36,6 tirilun dan terus merugi di tahun 2017 yang cukup gila sekitar Rp.1.31 triliun. Pihak publik memang tidak peduli dengan kondisi ini, tetapi masalah ini sangat merugikan negara yang begitu banyak.
Kita sebagai masyarakat hanya melihar luaran Garuda Indonesia itu bagus, namun yang aneh adalah pada kuartal pertama yang sudah merugi triliunan dan utang yang sangat besar, ini adalah aset negara yang harus di selamatkan. Pada bulan Agustus 2015 mantan Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli menyoroti tentang rencana pembelian pesawat Airbus A350 sebanyak 30 unit oleh Garuda Indonesia, menurutnya bahwa pesawat jenis ini hanya cocok untuk Jakarta-Amerika dan Jakarta-Eropa saja. Kritikan Rizal Ramli masalah pemborosan ini bisa menyebabkan kebangkrutan Garuda Indonesia akan menjadi kenyataan. Dengan kerugian laba bersih Garuda Indonesia ini bisa menjadi pailit dan bangkraut. Jadi feeling mantan menteri tersebut akan menjadi kenyataan nantinya. Bincang tersebut akhirnya membahasa masalah tarif dasar listrik yang naik-naik kepuncak gunungnya tidak turun-turun, apalagi dengan listrik yang menggunakan pulsa,
si Dadang biasa menggunakan token listrik seharga Rp.20.000 untuk seminggu sekarang hanya untuk tiga hari, begitu juga dengan saya yang menggunakan listrik dengan kapasitas 900 Kwh yang biasanya hanya Rp.75.000 atau dibawahnya kini sudah membayar Rp.150.000 atau Rp.265.000, padahal di rumah saya hanya untuk keperluan penerangan dan 1 unit komputer saja. Jadi semua orang yang mempunyai listrik 900 Kwh seperti cacing kepanasan, karena harus merogoh kocek lebih dalam lagi untuk membayar tersebut, tapi anehnya dengan kegalauan masyarakat arus bawah menjadikan pihak pemerintah dianggap angin lalu semata. Bincang berikutnya masalah utang negara, coba lihat grafik sebagai berikut:
Anda bisa menyimpulkan sendiri dengan kondisi negara ini masalah utang-utangnya yang menaik dari tahun ke tahun.





Tidak ada komentar: